Khofifah Sampaikan Amanah Gus Dur

0
348
Bagikan Sekarang

Probolinggo — Tiga kali Khofifah Indar Parawansa dibisiki KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebelum wafat pada 30 Desember 2009. Pesan Gus Dur hanya satu: kalau meninggal, tulis di batu nisan makam saya’the humanist died here’. Khofifah baru membeberkan amanat Gus Dur itu lima tahun kemudian.

Suatu waktu, Gus Dur yang kala itu sudah lengser dari jabatan Presiden Republik Indonesia keempat jatuh sakit. Selain keluarga, Khofifah memang salah seorang yang biasa mengurusi keperluan Gus Dur saat keluar dari Istana Negara. Di kabinet Gus Dur, Khofifah juga membantu sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan.

“Dua tahun sebelum wafat, beliau bilang ke saya. Mbak Khofifah, kalau saya mati, tolong tulis di batu nisan makam saya, ‘the humanist died here’,” kata Khofifah saat berbincang dengan beberapa wartawan di Probolinggo, Sabtu, (3/12) malam.

Dua bulan sebelum wafat, cerita Khofifah, bersama enam pengurus Muslimat NU dia menjenguk Gus Dur di kediamannya di Ciganjur. Waktu itu kondisi kesehatan Gus Dur kian memburuk. Mantan Ketua Umum PBNU tiga periode itu istirahat dengan beralaskan tripleks. “Karena memang tidak bisa lagi tidur di atas,” kata Khofifah.

Sambil memijat kaki sang guru, Khofifah mengobrol santai. Tak lama kemudian, meluncur lagi dengan suara lirih permintaan Gus Dur yang pernah disampaikan dua tahun sebelumnya. “Kalau saya sudah tidak ada, tulislah di batu nisan makam saya, ‘the humanist died here’,” cerita Menteri Sosial RI itu.

Tujuh hari menjelang wafat, Gus Dur kembali membisiki Khofifah permintaan yang sama. Ketua Umum PP Muslimat NU itu menyimpan rapat bisikan gurunya itu. Dia bertanya kepada dua murid dan orang dekat Gus Dur, Mahfudz MD dan Alwi Shihab, apakah menerima pesan tertentu, keduanya menjawab tidak. “Akhirnya tidak saya keluarkan permintaan Gus Dur itu,” ujar Khofifah.

Khofifah baru membuka pesan Gus Dur itu pada 2014 di Ciganjur. Pada acara Haul ke-6 Gus Dur di dekat makamnya di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng Jombang pada Januari 2016 lalu, dia sampaikan lagi amanat itu.

Saat itulah alumnus Fisip Universitas Airlangga ini menyampaikan wasiat Gus Dur soal ‘the humanist died here’ di batu nisan makam tokoh yang pada masa kecil dijuluki ayahnya Addakhil itu. “Karena acaranya bersebelahan dengan makam Gus Dur, kalau tidak saya sampaikan amanat itu, saya berdosa,” kata dia.

Khofifah mengatakan, ada pesan luhur dia petik dari kejadian itu. Yakni pemikiran Gus Dur yang teguh tentang bagaimana seharusnya berkemanusiaan. “Gus Dur dikenal sebagai bapak pluralism. Kalau saya, beliau lebih tepat disebut bapak humanis. Karena kehumanisan Gus Dur melindungi minoritas,” ucap dia.

Bulan Desember ini, tujuh tahun sudah Gus Dur meninggal dunia. Aktivis dan warga NU mengenang kehadiran dan peran besarnya semasa hidup, baik sebagai tokoh bangsa maupun NU. Nahdliyin menyebut Desember adalah bulan Gus Dur. Kala kondisi politik dan sosial negeri panas dan runyam beberapa waktu lalu, tagar Rindu Gus Dur berseliweran di jagat maya. (Viv/saiful)

Leave a reply