Kekhawatiran Pemula Suluk dalam Beristighfar

0
35
Bagikan Sekarang

Oleh KH. R. Abdul Aziz (Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jatim; Direktur Aswaja NU Center PCNU Bangil)

Benar juga, dengan siapa kita bertemu, maka energinya akan dipindahkan kepada kita. Setelah sekian lama malas menulis, walaupun cuma sekedar status FB, pagi ini muncul gairah untuk menulis kembali setelah tadi malam bertemu dengan Kiai Yusuf Suharto , penulis dan pegiat Aswaja kawakan dari Jombang.

Tulisan ini berkaitan dengan salah satu tamu saya pagi tadi, anak muda, yang menyatakan diri ingin mendalami tasawwuf dari jalur pemahaman materi terlebih dahulu, bukan dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan jam’iyah thoriqah.

Para pemula dalam “suluk” banyak yang mengalami kegalauan ketika menggali makna dan tujuan istighfar secara mendalam. Sampai-sampai, diantara mereka yang kritis mengungkapkan analisa dan kesimpulan yang logis dan realistis hingga hampir menjadi sebuah pemikiran yang benar.

Beristighfar itu meminta maaf kepada Allah atau bertaubat atas kesalahan yang dia lakukan. Mestinya, pertaubatan itu dilakukan secara serius dengan memenuhi kriteria taubat an nasuha, yaitu Iqla’ (berlepas diri) dari dosa yang dilakukan, Nadm (menyesal) atas terjadinya perbuatan itu dan ‘Azm (sungguh-sungguh berniat) untuk tidak mengulanginya kembali.

Ketika seseorang mengucapkan Astaghfirullahal Adzim, maka seakan-akan dia mengatakan : “Aku berjanji kepada Tuhanku untuk selalu taat pada perintahNya dan meninggalkan hal-hal yang tidak sesuai denganNya”. Namun kenyataannya, semua orang setelah beristighfar tetap saja mengulang perbuatan dosa, terkadang dosa yang sama atau dosa yang berbeda. Maka disini ditemukan, seakan-akan orang yang beristighfar, malah mempermainkan Allah dan melecehkanNya. Sebab, setelah berjanji seperti diatas mereka kembali meninggalkan kewajiban dan bahkan melakukan hal-hal yang dilarang, karena hawa nafsu lebih dominan daripada akal dan lemahnya kepribadian manusia untuk selalu istiqamah dalam ketaatan dzahir dan bathin.

Pemikiran semacam ini, bisa jadi membuat para pemula itu merasa lebih baik tidak beristigfar dan memilih aurad yang lain. Padahal sebenarnya, ini cara syetan mengganjal mereka untuk dekat dengan Allah. Ini cara syetan untuk membuat mereka berputus asa dari kasih sayangNya.

Sebenarnya, yang diharapkan dengan istighfar adalah menempatkan diri dalam suatu tujuan kuat (‘azm) untuk melaksanakan konsekwensi taubat. Maka, ketika beristigfar, janji yang terungkap dibalik kalimat istighfar itu, sudah terpenuhi sebagai janji, saat dia bersungguh-sungguh dan ikhlas dengan istighfarnya. Sehingga, andaikan dia mati saat itu juga atau dalam masa dimana dia belum berbuat dosa setelahnya, maka sungguh dia telah berhasil mendapatkan kebahagiaan dengan anugerah ampunanNya sebagai mana nash yang tertuang dalam Al Qur’an.

Asal kita semua tahu, selagi predikat ‘ishmah (terlindungi dari dosa) tidak terdapat pada kita, maka kapan saja kita bisa “terpelesat, tersandung dan terjerumus”. Ada hikmah dibalik itu, setidaknya agar kita senantiasa berkebutuhan ibadah, selalu merasa lemah dan terus-menerus memohon ampun kepadaNya. Bukankah Rasulullah Saw bersabda :
لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون فيستغفرون الله فيغفر لهم
“Andaikan kalian tidak berbuat dosa, maka Allah akan “pergi” dan “datang” dengan kaum yang berdosa lalu mereka memohon ampunan Allah dan Dia mengampuni mereka”.
Rasulullah juga bersabda :
ما أصر من استغفر ولو عاد في اليوم سبعين مرة
“Belumlah berterus-menerus melakukan dosa, orang yang beristighfar walaupun dia mengulangi (dosa) sehari sampai 70 kali”

Yang tidak boleh itu, ketika mengungkapkan janji yang terkandung dalam kalimat istighfar itu tidak dengan sungguh-sungguh, lisannya beristighfar tapi dalam hati sudah ada niatan mengulang kembali. Kalau yang demikian ini termasuk dalam golongan orang yang dikotori sifat nifaq, yang antara ucapan dan hatinya berbeda.

Na’udzu billah min dzalik. AZ]

Leave a reply