Dikunjungi Menhan, PBNU Ingatkan Birokrasi yang Terpapar Ekstremisme

Dikunjungi Menhan, PBNU Ingatkan Birokrasi yang Terpapar Ekstremisme

JAKARTA — Akhir-akhir ini masih ada kelompok bangsa Indonesia yang dengan lantang menolak Pancasila sebagai dasar negara. Gejolak tuduhan miring terhadap presiden juga masih dibunyikan, seperti antiislam. Melihat fenomena demikian, tentu pemerintah tidak bisa menanganinya sendirian. Masyarakat juga harus turut ambil bagian mengingat tanggung jawab bersama. “Harus bergandengan tangan antara Pemerintah dan NU,” tegas KH

JAKARTA — Akhir-akhir ini masih ada kelompok bangsa Indonesia yang dengan lantang menolak Pancasila sebagai dasar negara. Gejolak tuduhan miring terhadap presiden juga masih dibunyikan, seperti antiislam.

Melihat fenomena demikian, tentu pemerintah tidak bisa menanganinya sendirian. Masyarakat juga harus turut ambil bagian mengingat tanggung jawab bersama.

“Harus bergandengan tangan antara Pemerintah dan NU,” tegas KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), usai menerima kehadiran Menteri Pertahanan Jend TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu di Gedung PBNU lantai 3, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat lalu.

Pasalnya, lanjut Kiai Said, NU memiliki basis yang kuat di mushalla-mushalla dan pesantren-pesantren yang jumlahnya puluhan ribu.

Terlebih, katanya, perkembangan zaman terus maju dan melahirkan tantangan baru.

“Bahwa tantangan negara ke depan jauh lebih berat daripada kemarin,” ujar Pengasuh Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan itu.

Mereka yang menolak Pancasila itu menginginkan gejolak pertikaian yang ada Timur Tengah dibawa ke Bumi Pertiwi. Padahal, bangsa Arab sendiri, kata Kiai Said, menginginkan kedamaian seperti Indonesia.

“Setiap ada tamu, Mesir, Suriah, Lebanon, Iran ke sini mereka mendambakan ingin seperti Indonesia, bisa mengatasi perbedaan, bisa bersatu dalam berbagai ragam. Di Timur Tengah, sulit sekali yang seperti itu,” jelas Kiai Said.

Bangsa Arab meskipun satu bangsa dan satu bahasa, katanya, tapi perang terus. Sementara Indonesia dengan perbedaan suku, bahasa, hingga agama bisa bersatu.

“Sementara orang sana kagum dengan kita, di eh di sini kagum ke sana,” kata alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur dan Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta itu.

Hal tersebut, menurutnya, karena besarnya pengaruh media sosial yang semakin masif dan mudahnya mengakses informasi. Demikian diperparah dengan kampus-kampus yang terpapar radikalisme melalui kelompok tarbiyah yang mengkaji Ikhwanul Muslimin dari Mesir.

Akibatnya, mahasiswa yang lulus dengan membawa bekal tersebut membawanya ke ruang-ruang yang mereka isi. Terlebih mereka menjadi pejabat di lingkungan pemerintahan. “Kita lihat di berbagai kantor pemerintah banyak yang aneh,” ujarnya.

Mestinya, jelas Kiai Said, Pancasila betul-betul menjadi pegangan falsafah orang Indonesia tapi tanpa dipaksakan. “Menjadi kewajiban tanpa ada paksaan,” ucapnya.

Di samping itu, Kiai Said menyampaikan bahwa NU saban hari mengupayakan persatuan dan melakukan penguatan terhadap Pancasila kepada seluruh bangsa Indonesia.

“Kita ini disuruh atau gak disuruh, diinstruksikan atau gak diinstruksikan, digaji, dihonor, atau gak dihonor, digaji, yang namanya NU tiap hari, kiai-kiai pesantren, tokoh-tokoh NU di masyarakat, bagaimana coba kalau ceramah membimbing masyarakat, ‘Ayo kita solid!’ ‘NKRI harga mati!’, ‘Pancasila jaya!’,” pungkasnya. (Red)

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Arsip

RADIO9