Pesantren Hadapi Revolusi Industri 4.0, RMI Kolaborasi Arsitektur UINSA

Pesantren Hadapi Revolusi Industri 4.0, RMI Kolaborasi Arsitektur UINSA

“Pesantren mempunyai beberapa keunggulan antara lain independensi pendidikan, otonom keuangan, terbebas dari intervensi. Keberagamaan dalam sistem pendidikan menjadi salah satu kekayaannya, pesantren tidak perlu di standarisasi justru keberagamaan merupakan kekayaannya, Sehingga RUU Pesantren jangan sampai tidak sesuai dengan kondisi pesantren dan kebaikan pesantren,”

SURABAYA — Prodi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, menyelenggarakan Simposium Nasional Pondok Pesantren di Amphiteater, Rabu 18 September 2019. Mengangkat tema “Sinergi dan Kolaborasi Pengembangan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren dalam Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals”.

Acara dihadiri KH Abdul Ghaffar Rozin, M.Ed, Ketua Asosiasi Pesantren NU (RMI PBNU), Ruchman Basori, S.Ag., M.Ag. (Kasubdit Sarpras Diktis Kemenag RI), Ir. H. Muhammad Faqih MSA. PhD. (Arsitektur ITS Surabaya), dan Ir. Suci Purnawa, MM. (Kabid Kepala Perumahan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Cipta Karya Prov. Jatim).

Khusnul Prianto, MT. sebagai ketua program studi arsitektur mengatakan “Prodi arsitektur Saintek UINSA siap membackup membuat master plan pengembangan sarana dan prasarana pondok pesantren se-Jawa Timur sehingga bisa menjadi blueprint pembangunan pesantren ke depan” kegiatan ini dihadiri sedikitnya 100 Pondok Pesantren di lingkungan RMI.

Bila dilihat dari sejarah pembangunan pondok pesantren zaman dulu kiai membangun kamar disesuaikan jumlah santri yang datang untuk mondok. Sehingga model bangunan pesantren tidak teratur.

“Seiring dengan berjalannya waktu, meningkatnya kelas menengah perkotaan pertanyaan yang muncul oleh orang tua siswa baru bukan kurikulum apa yang diajarkan. Tetapi fasilitas-fasilitas infrastruktur. Seperti kapasitas kamar berapa orang. Apakah ada AC-nya bagaimana dengan makanannya, cuci bajunya dll,” tuturnya.

Berbeda dengan pertanyaan-pertanyaan orang zaman dulu yang bertanya kurikulumnya seperti apa, kiainya alumni pondok mana dan seterusnya.

Gus Rozin menjelaskan, ada tiga hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus mengenai SDG’s, pertama kesehatan. Kedua pendidikan, ketiga air dan sanitasi.

Selanjutnya Gus Rozin menjelaskan tentang pengawalan Rancangan Undang-Undang Pesantren (RUU Pesantren) itu bukan sebagai hadiah dari pemerintah. Namun, posisi pesantren dan negara sebagai partnership (imbang).

“Pesantren mempunyai beberapa keunggulan antara lain independensi pendidikan, otonom keuangan, terbebas dari intervensi. Keberagamaan dalam sistem pendidikan menjadi salah satu kekayaannya, pesantren tidak perlu di standarisasi justru keberagamaan merupakan kekayaannya, Sehingga RUU Pesantren jangan sampai tidak sesuai dengan kondisi pesantren dan kebaikan pesantren,” kata Gus Rozin.

Pengasuh Pesantren Mathaliul Falah Pati ini menjelaskan, Pesantren mempunyai tiga fungsi. Pertama sebagai lembaga pendidikan. Kedua, sebagai pengembangan masyarakat dan ketiga sebagai jalan dakwah.

“Untuk itu pesantren perlu mitra strategis dalam membersamai serta mewujudkan tiga fungsi tersebut, fakultas sains dan teknologi UINSA hadir untuk itu.

Suci Purnomo dari Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Cipta Karya menyampaikan pesan berbeda. Ia menjelaskan tentang bagaimana peran Pemprov Jatim dalam peningkatan kualitas sarana dan prasarana untuk Rusunawa perguruan tinggi dan pesantren.

Ruchman Bashori menjelaskan fungsi Kementerian Agama RI tentang kebijakan pengembangan sarana dan prasarana pondok pesantren, yaitu Rekognisi, Regulasi dan Fasilitasi.

Kemudian Ir. H. Muhammad Faqih, MSA. PhD. merumuskan model sinergitas Pesantren, UINSA, Kemenag RI, Kemen PU PR, RMI (Rabitah Ma’ahid Islamiyah NU) dan Masyarakat mulai dari Research, Policy Making, Planing, Constructing, Financing, Controlling.

Acara juga dibuka rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Masdar Hilmi yang dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara RMI PBNU (KH Abdul Ghafarrazin) dengan UIN Sunan Ampel Surabaya. Kemudian Gus Zaki Hadziq (RMI NU Jatim) beserta Dr. Hj. Eni Purwati (Dekan Fakultas Saintek UINSA).

Acara dipandu Abdulloh Hamid, dosen Fakultas Sains dan Teknologi UINSA yang sekaligus pengurus RMI PBNU berjalan antusias dan lancer, semoga dengan adanya acara ini menjadi mukaddimah awal untuk kerjasama-kerjasama selanjutnya. (Red)

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Arsip

RADIO9