Menjaga Tradisi Aswaja Secara Tepat dan Benar

0
277
Bagikan Sekarang

Gresik — Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Wringinanom Gresik Jawa Timur mengadakan Dialog Interaktif Aswaja dan Ke-NU-an pada Sabtu (12 Maret ’22) dengan mengundang dua Nahdliyin muda, Yusuf Suharto (Aswaja NU Center PWNU Jatim), dan Abdul Quddus Salam (LP Ma’arif PWNU Jatim). Acara bertempat di Pondok Pesantren Darut Taqwa dalam rangka HARLAH N

Acara yang diikuti utusan lembaga dan banom banom di MWCNU Wringinanom ini dibuka oleh Ketua MWCNU Wringinanom, yang sekaligus Pengasuh Pesantren Darut Taqwa, KH. Ahamad Thohuri, dan ditutup doa oleh Rais Syuriyah, KH. M. Sholihan.

“Saya mengharap ada proses regenerasi yang baik di kita. Yang Fatayat ya jangan Fatayat saja, jika usianya sudah Muslimat,” ujarnya disambut senyum para ibu ibu.

“Saking pentingnya tradisi, ada ulama yang menyatakan bahwa meninggalkan tradisi baik di masyarakat itu bisa berhukum makruh. Karena itu, kita harus memahami tradisi suatu masyarakat dengan baik.” Paparan Yusuf Suharto tentang menempatkan Tradisi secara tepat dan benar.

“Jangan sampai, jika dalam suatu masyarakat tradisinya itu jika shalat Shubuh berqunut, lalu karena dipandang sekedar sunnah, lalu ditinggalkan. Wahh, jika begini, jika imamnya masih jomblo, alamat ” dipecat” menjadi calon menantu,” ujar Tim Aswaja NU Center PWNU Jatim ini disambut ketawa para hadirin.

“Jadi, yg biasa tahlilan selepas jamaah Maghrib, ya hargai tradisi itu. Dilestarikan. Jangan ditinggalkan. Nanti bisa melukai masyarakat. Ini contoh pengamalan praktis Aswaja an Nahdliyah.”

“Kita juga harus memikirkan para kader muda. Jangan sampai tradisi yang baik itu tidak diteruskan. Ini tanggung jawab kita.”

“Aswaja an Nahdliyah itu ya mengikuti Aswaja ala pengamalan para Nahdliyin. Masyarakat kita pada umumnya bermazhab Syafii. Ya, sesekali dalam suatu kebutuhan atau kesulitan, kita bisa pindah mazhab, misalnya ketika thawaf.”

“Orang NU itu beruntung sekali. Tiga ulama Aswaja panutannya adalah para mujadid (pembaharu) semua. Imam dalam bidang fikih, yaitu Imam Syafii, adalah mujadid abad kedua hijriah. Imam Abul Hasan al Asy’ari, imam dalam bidang akidah adalah mujadid abad keempat hijriah. Imam Ghazali, imam dalam bidang tasawuf adalah mujadid abad kelima hijriah, “ujar Ketua Persatuan Dosen Agama Islam (Persada) Nusantara Jatim ini.

Abdul Quddus Salam, pengurus LP Ma’arif Jatim menambahkan,

“Benar tadi yang disampaikan pembicara pertama. Jadi, dalam ber1NU itu kita mengikuti cara berpikir para ulama Aswaja, para kiai NU, dan juga harakah atau gerakannya.”

Ketika ada peserta yang bertanya, buku panduan shalat apa yang cocok bagi warga NU, kedua narasumber menyebut buku panduan shalat yang sudah pernah diterbitkan oleh LTM (Lembaga Takmir Masjid) NU.

“Sebagai gerakan, ya kita dukung buku yang diterbitkan oleh LTM PBNU. Ini jelas NU-nya,” ujar Abdul Quddus Salam.

Qudus juga menyebut bahwa di antara yang mendirikan NU itu ada kalangan habaib atau dzuriyah Rasulullah Muhammad.

“Yang menamakan Nahdlatul Ulama itu seorang dzuriyah Rasulullah, namanya Sayyid Mas Alwi.”

Acara yang dipandu Muallimin, kader muda NU ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 siang.

Leave a reply