Kiai Said Ingatkan Pentingnya Cinta Tanah Air

0
339
Bagikan Sekarang

Surabaya – Suasana aman dan tentram sebuah negeri ditentukan banyak faktor. Antara agama dan budaya, serta nasionalisme juga sebagai piranti yang sangat menentukan demi keutuhan serta kesinambungan.

Sejumlah hal inilah yang diingatkan KH Said Aqil Siroj. Hadir di acara halal bihalal yang dikuti PCNU se-Jatim dan juga para ketua partai. Ketua Umum PBNU ini kembali mengingatkan komitmen kebangsaan dan nasionalisme sebagai warisan ulama demi terjaganya kesatuan bangsa.

“Shalat itu agama, pakai baju itu budaya. Kalau mau beragama tanpa mau memakai budaya, ya berarti silakan sampeyan shalat sambil mudho (telanjang),’’ kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj di hadapan puluhan pengurus NU dan partai-partai politik. Rukunnya agama dan budaya, menurut dia, adalah salah satu rahasia bertahannya Islam di Indonesia.

Menurut Kiai Said, kunci pertahanan negara adalah kecintaan terhadap negara. Serta, bersatunya agama dan budaya yang mengakar di masyarakat.

Jika agama dan nasionalisme tidak bisa bersatu, itulah yang menurutnya membuat umat Islam di Timur Tengah tidak berhasil membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dengan baik.

Dia menyebut ulama-ulama terkemuka seperti Sayyid Qutb, Hasan al-Banna, Yusuf Qardhawi, dan Sayyid Sabiq. ’’Mereka tidak membangunnya dengan nasionalisme,’’ katanya.

Sementara itu, para nasionalis, sebut saja Saddam Husain, Muammar Khadafi, Hafidz al-Asad, dan Gamal Abdul Nasser, tidak termasuk dari golongan ulama.

Dalam sejarah, jika dua fraksi itu berseteru, korban yang ditimbulkan tidak sedikit. Bangsa Indonesia dengan berbagai kemajemukannya bisa bertahan karena para ulama.

Selain agama, mereka mencintai bangsa dan negaranya. Islam di Indonesia bisa bertahan karena jargon dari kiai Hasyim Asy’ari, pendiri NU, yaitu hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).
’’Kaidah ini diciptakan Mbah Hasyim, bukan hadits,” tuturnya.

Budaya, menurut Said, merupakan segala hal yang diciptakan manusia. Agama adalah perbuatan manusia berdasar tuntunan Tuhan.

Kiai Said kemudian mengutip sebuah kaidah yang diciptakan ilmuwan muslim bahwa kita tidak seharusnya meninggalkan budaya. Kecuali budaya tersebut jelas-jelas dinyatakan haram. Naik haji adalah agama, sedangkan naik pesawat merupakan budaya. Orang yang menolak mencampurkan budaya dengan agama harus naik haji dengan berjalan kaki.

Elemen pertahanan bangsa Indonesia yang juga penting adalah kiai kampung. Kiai yang sehari-hari hanya mengajar mengaji dan menasihati dengan kata-kata sederhana. Menurut Kang Said, nasihat seorang kiai kampung paling-paling cuma sebatas “Sing rukun, jangan tukaran,” ataupun “sing sabar kalau ada bencana melanda.”

Yang berbahaya justru “kiai” yang baru lulus dari Timur Tengah. Para teroris yang ditangkap rata-rata habis pulang “belajar” dari Timur Tengah. Menurut Kiai Said, kiai kampung tidak akan mengajarkan terorisme.

“Tidak mungkin ada kiai kampung yang mengajarkan caranya bikin bom,” paparnya.
Kiai-kiai semacam itu adalah kekayaan milik NU. Menurutnya, kalau semua kiai di Indonesia seperti itu, persoalan seperti terorisme, ekstremis, dan kekerasan atas nama agama bisa ditekan dengan minimal.
“Kalau kiainya NU semua, Densus 88 bubar, BNPT juga bubar,” jelasnya.

Indonesia tetap bertahan jika para kiainya terus berjihad. Jihad yang dimaksud adalah jihad ilmi (ilmu pengetahuan), jihad khuluqi (moral), jihad siyasi (politik), dan jihad iqtishodiyah (ekonomi).
“Bukan yang ngebom terus dapat bidadari,” kelakarnya.

Kiai Said juga secara khusus menitipkan Jatim. Menurut dia, NU di Jatim merupakan barometer nasional. NU akan tetap kuat jika Jatim tetap solid. (JP/Saiful)

Leave a reply