Wasiat Mbah Moen: Kesabaran Guru Niscaya Berbuah Surga

Wasiat Mbah Moen: Kesabaran Guru Niscaya Berbuah Surga

Santri, kiai dan orang tua adalah tiga serangkai yang saling melangitkan doa yang sama dan saling mendoakan untuk santri, kiai dan orang tua itu sendiri. Itulah, satu hal yang kadang dilupakan guru-guru di sekolah umum.

SURABAYA — Hari Guru Nasional, 25 November 2019, menjadi perhatian banyak kalangan. Tak kurang dari kalangan pesantren pun mempunyai perhatian terhadap guru karena, termasuk di antaranya, menjaga moral bangsa.

KH Dimyati Rois, dari Kendal mengingatkan sebagai berikut:

“Jika Anda menjadi guru hanya sekadar transfer pengetahuan, akan ada masanya ketika Anda tak lagi dibutuhkan. Karena, Google lebih cerdas dan lebih tahu banyak ha daripada Anda. Namun, jika Anda menjadi guru juga mentransfer adab, ketakwaan dan keikhlasan, maka Anda akan selalu dibutuhkan karena Google tak punya itu semua”.

Sementara itu, KH Maimoen Zubair (almaghfurlah) pernah berpesan:

“Yang paling hebat dari seorang guru adalah mendidik dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya. Namun, hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menju surga”.

KH Achmad Shampton Masduqie, putra mantan Rais Syuriah PWNU Jatim KH Masduqie Mahfudz memberikan refleksi sebagai berikut:

Sejak dimintai membantu ngajar di kampus almamater, saya selalu menyempatkan menyisipkan pesan moral. Pentingnya adab, pentingnya mondok. Bagaimana seorang kiai sehebat apapun dihadapan kiainya dia tetap menganggap dia adalah guru yang lebih utama dari dirinya.

Santri, kiai dan orang tua adalah tiga serangkai yang saling melangitkan doa yang sama dan saling mendoakan untuk santri, kiai dan orang tua itu sendiri. Itulah, satu hal yang kadang dilupakan guru-guru di sekolah umum. Meski tidak semua.

Kiai bahkan seringkali bikin iri anak-anaknya yang merasa dinomerduakan dari para santri. Atau seperti pesan Abah Kiai Masduqie yang selalu diulang-ulang di hadapan putra-putrinya, “Santri-santri kui anakku, anggepen dulurmu…” (Para santri itu anakku, anggaplah mereka saudaramu juga)

Kepada adik-adik mahasiswa saya sering bilang: “Di hadapan bapak ibu kos, sampeyan dianggap sebagai objek bisnis, uang tapi di hadapan kiai sampeyan akan dianggap anak yang selalu dalam doanya. Kenapa lebih memilih kos dari mondok?”

Kepada santri-santri/alumni yang sudah mengajar, Abah sering berpesan, “Gajimu anggaplah rezeki Allah yang tidak perlu kamu cari, anggap murid-muridmu sebagai orang yang membantumu menjadikan ilmumu manfaat, cintai mereka seperti anakmu.”

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Arsip

RADIO9