Wapres Dengarkan Aspirasi Kiai, Usulkan Masjid Kembali Dibuka

“Tapi kita memang tidak boleh hanya mencari kemudahan saja. Melainkan kemudahan atau kebolehan yang memang ada metodenya seperti ada bahaya, maka rukhshah itu kita pakai untuk menjaga umat dan itu sesuatu aturan agama atau maqasid syariah (tujuan syariat) yakni hifzunnafs atau melindungi nyawa,”
0
3
Bagikan Sekarang

Jakarta — Aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang sebelumnya menutup rumah ibadah, kini telah direvisi dengan kembali membuka masjid dan mushala. Hal ini merupakan usulan dari Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) KH Ma’ruf Amin yang mendengarkan berbagai aspirasi dan tuntutan para kiai. “Alhamdulillah saya berusaha, karena banyak protes masyarakat supaya tidak ditutup. Di dalam aturan terbaru, sudah disebutkan tidak ada lagi kata-kata menutup masjid, tapi yang ada dilarang untuk berkerumun. Jadi ini sudah sesuai dengan tuntutan para kiai,” tutur Wapres saat melakukan pertemuan virtual dengan para ulama dan tokoh agama Islam se-Indonesia, Senin (12/7).

Dijelaskan Kiai Ma’ruf, meskipun masjid telah dibuka, tetapi tetap tidak diperkenankan shalat berjamaah baik rawatib, shalat Jumat, dan shalat ied. Larangan shalat ied bukan hanya untuk di dalam masjid tetapi juga di luar. Aturan ini ditetapkan hingga keadaan sudah memungkinkan lagi untuk melakukan shalat berjamaah. Ditegaskan, Covid-19 merupakan bahaya yang harus dihindari. Karena bahaya, maka agama memberikan rukhshah atau keringanan untuk tidak shalat berjamaah di masjid. Menurut Kiai Ma’ruf, sepanjang ada keringanan yang diperbolehkan maka agama tidak memperkenankan umat Islam untuk menerjang bahaya.

“Tapi kita memang tidak boleh hanya mencari kemudahan saja. Melainkan kemudahan atau kebolehan yang memang ada metodenya seperti ada bahaya, maka rukhshah itu kita pakai untuk menjaga umat dan itu sesuatu aturan agama atau maqasid syariah (tujuan syariat) yakni hifzunnafs atau melindungi nyawa,” katanya. Selanjutnya, Wapres mengajak para kiai untuk senantiasa menjaga umat dari berbagai informasi yang mengalir deras di linimasa media sosial. Ia menuturkan bahwa saat ini terdapat banyak isu, kabar, fitnah, dan berita yang tidak benar atau hoaks. “Sekarang ini, zamannya banjir informasi. Ada yang benar, ada yang bohong, fitnah, hoaks, adu domba. Ini bercampur baur di dalam masyarakat. Banyak masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang bohong. Dinamakan sebagai era post truth atau pasca-kebenaran. Kebenaran saat ini tersamarkan dengan kebohongan. Ini yang terjadi sekarang,” terang Wapres. Salah satu hoaks yang beredar adalah tentang Covid-19 sebagai konspirasi. Padahal, kata Wapres, pandemi Covid-19 ini nyata. Karena itu, ia menamakan saat ini sebagai zamanul istisybah atau era terserupakan. Sebuah zaman yang membuat orang banyak keliru dan salah menerima informasi jika tidak teliti.
Di era banjir informasi yang segala hal dapat terserupakan ini, Wapres merasa tepat jika mengamalkan doa yang diajarkan Nabi. Doa itu adalah Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnattiba’ah wa arinal bathila bathila warzuqnajtinabah.

“Ya Allah, perlihatkan kepada kami yang benar itu nampak benar dan berikan kemampuan untuk mengikuti. (Dan) tampakkanlah yang bathil itu bathil serta berikan kemampuan kepada kami untuk bisa menjauhinya. Jangan sampai yang benar dan bohong itu terserupakan sehingga kita tidak bisa membedakan keduanya,” terang Wapres.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/130059/dengarkan-aspirasi-kiai–wapres-usulkan-masjid-kembali-dibuka?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

Leave a reply