Menag: Jadikan Pesantren Destinasi Pendidikan Dunia

0
287
Bagikan Sekarang

Jombang – Kajian keilmuan agama, khususnya kitab kuning menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan di pesantren. Meskipun jaman terus berkembang, para santri tetap kukuh dengan tradisi tersebut. Bahkan ciri khas ini akan menjadi tujuan wisata tingkat dunia.

Harapan ini disampaikan Menteri Agama RI, H Lukman Hakim Saifuddin saat menghadiri wisuda ketiga Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng sekaligus menyerahkan SK penetapan izin pendirian 13 Ma’had Aly se-Indonesia, Senin (31 Mei 2016) petang.

“Saya sangat mengapresiasi peran menteri agama terdahulu, juga para pengasuh pesantren sehingga ma’had aly dapat diakui keberadaannya,” kata H Lukman Hakim. Dengan nada merendah, Menag mengemukakan bahwa penyerahkan SK penetapan izin bagi 13 ma’had aly adalah upaya tidak pernah lelah para pendahulu. “Ibarat pertandingan bola, saya hanya melakukan tendangan di depan gawang,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Selanjutnya, putra dari mantan Menteri Agama RI, H Saifuddin Zuhri ini mengajak pesantren untuk terus memperbaiki kwalitas. “Alumni pesantren adalah mereka yang memiliki keahlian dalam agama Islam yang berbasis kitab kuning,” ungkapnya. Dan keberadaan ma’had aly adalah sebagai pembagian sistemik dari pembelajaran yang ada di pesantren, lanjutnya.

Kajian keagamaan yang ada di pesantren, pada prinsipnya tidak untuk pesantren semata. “Juga mengembangkan keilmuan dan transformasi sosial dari jaman yang terus berubah,” katanya. Kajian yang dilakukan pesantren dengan kitab kuningnya juga merupakan kebutuhan dari bangsa Indonesia, lanjutnya.

Dengan sejumlah ikhtiar dan kekukuhan kajian yang telah dilakukan, Lukman Hakim berharap agar pesantren dengan ma’had aly-nya mampu melahirkan ulama kontemporer yang berorientasi pada kemaslahatan manusia.

Baginya, hal tersebut sangat strategis bagi Indonesia dan juga dunia. “Karenanya saya berharap pesantren sebagai destinasi pendidikan dunia,” kata Lukman yang disambut tepuk tangan hadirin.
Karena, pusat kajian keislaman dengan kitab kuning sebagai rujukan utama tidak lagi ada di negara-negara di kawasan Timur Tengah. “Indonesia juga bisa, dan tempatnya di pesantren,” tegasnya.

Lukman Hakim menyadari bahwa harapan bahwa pesantren sebagai destinasi pendidikan dunia tersebut sangatlah tinggi dan ideal. “Paling tidak kita memiliki mimipi yang sama untuk mewujudkan hal tersebut,” katanya. Dan sedikit demi sedikit, mimpi tersebut harus direalisasikan bersama.

Namun dengan realita bahwa alumni pesantren sebagai intelektual muslim yang rahmatan lil’alamin, cita-cita tersebut dapat segera terwujud. “Ini demi kemaslahatan umat dan masa depan bangsa,” pungkasnya. (saiful)

Leave a reply