Mantan Ketua Gerwani Meninggal, Ansor Ucapkan Bela Sungkawa

0
329
Bagikan Sekarang

BLITAR – Salah seorang aktifis dan Ketua Gerwani Kabupaten Blitar Putmainah tutup usia. Bekas anggota dewan (DPRGR) dari Fraksi Partai Komunis Indonesia (PKI) itu meninggal pada usia 90 tahun. Para peziarah pun berdatangan ke rumah duka di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

Tampak hadir pula di rumah duku, Ketua Satkorcab Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU Kabupaten Blitar, Imron Rosadi. Imron mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.
“Kami turut mengucapkan bela sungkawa, “ tutur Imron atau biasa dipanggil Baron kepada Patmiati, 86 adik kandung Putmainah, Rabu (25 Mei 2016). Seperti Putmainah, Patmiati tercatat sebagai eks tahanan politik peristiwa 30 September 1965. Ia juga dijebloskan ke penjara wanita Plantungan Semarang selama 9 tahun yakni (1970-1979).

Baron menjelaskan kehadirannya sebagai wujud penghormatan sesama manusia. Apalagi proses pemakaman almarhumah dilakukan secara agama Islam. Hal itu sekaligus membuktikan bahwa rekonsiliasi 65 di Kabupaten Blitar berjalan alamiah yakni kultural.

“Ini seperti di wilayah Blitar selatan. Antara anak anak eks PKI dan Ansor bisa hidup bersama berdampingan. Rekonsiliasi di Blitar telah berjalan secara alami. Masa lalu itu telah selesai. Dan yang terpenting tidak ada pihak yang mencoba membukanya lagi sebagai luka lama,“ jelasnya.

Seperti tamu pelayat yang lain. Baron juga mendapat sambutan hangat dan ucapan terima kasih (telah bertakziah) dari pihak keluarga.

Putmainah sudah tiga tahun menderita stroke. Sebelumnya sempat mengalami tetanus akibat luka pada gusi yang membuat tidak sadar hingga dua minggu. Akibat stroke separuh tubuh Putmainah lumpuh, tidak bisa digerakkan. Dia juga mulai terserang alzeimer (pikun). Hari harinya nyaris habis di kursi roda dan kamar.
Putmainah dimakamkan di TPU Desa Pakisrejo. Keluarga menempatkan makamnya di sebelah kuburan KH Abdurrahman, yakni orang tua KH Mansyur yang dikenal sebagai bekas laskar Prajurit Diponegoro keturunan langsung Sunan Tembayat, penyebar agama Islam di Jawa Tengah.

Sebagaimana lazimnya tradisi muslim nahdliyin (NU), menurut Patmiati pihak keluarga juga akan menggelar doa tahlil untuk Putmainah hingga 40 harinya. “Kita juga akan melakukan doa tahlil bersama tiga hari, tujuh hari, hingga 40 hari kematian. Kemudian sesuai tradisi akan berlanjut seratus hari dan seribu harinya,” pungkasnya. (Sdn/saiful)

Leave a reply