Kiai Bisri Syansuri, Pembelajar Ulet dan Dekat Mbah Hasyim Asy’ari

Kiai Bisri Syansuri,  Pembelajar Ulet dan Dekat Mbah Hasyim Asy’ari

Kiai Bisri juga dikenal sebagai sosok yang aktif di dunia politik. Dalam catatan biografi tersebut, Kiai Bisri sangat menjunjung kepentingan umat dan memperjuangkan umat karena terpilih sebagai anggota DPR dari suara rakyat.

JOMBANG — Sosok KH Bisri Syansuri tidak dapat dipisahkan dari gerak nadi Nahdlatul Ulama. Demikian pula kiprah dan pemikirannya turut menentukan perjalanan negeri ini. Karena itu, keberadaannya tidak semata menjadi milik Pesantren Denanyar, juga NU dan bangsa Indonesia.

Demikian benang merah yang dapat dipetik dari manaqib atau biografi KH Bisri Syansuri karya Faris Elnizar yang dibacakan KH. Abdul Muid Shohib pada puncak haul di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Senin, 24 Februari 2020 malam.

Menurut Kiai Muid, kelebihan dari pribadi Kiai Bisri adalah ketegasan dalam bersikap, namun juga lentur dengan dinamika yang terjadi. Kiai Bisri juga ulama yang ulet dalam menimba ilmu.

“Bisri Syansuri muda adalah pembelajar yang ulet dan tekun. Sebagaimana tradisi ulama terdahulu, Kiai Bisri muda adalah pengembara ilmu,” tutur Kiai Muid.

Kiai Bisri tercatat pernah berguru ke banyak ulama, baik di Indonesia maupun di tanah Haramain. Dalam biografi itu, Kiai Bisri pernah berguru ke Kiai Abdus Shomad, Kiai Siroj, Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati, Kiai Cholil Bangkalan, hingga Kiai Hasyim Asy’ari, Jombang.

“Kiai Bisri muda punya kedekatan khusus dengan Kiai Hasyim Asy’ari. Di bawah asuhan Kiai Hasyim inilah, Kiai Bisri mencapai puncak kematangan keilmuan,” ungkap Kiai Muid.

Pengembaraan Kiai Bisri berlanjut pada tahun 1913 ke tanah Haramain. Saat itu Kiai Bisri muda berguru kepada Syeikh Muhammad Baqir, Syeikh Muhammad Said Yamani, Syeikh Ibrahim Yamani, Syeikh Jamal al Maliki, Syeikh Khotib al Minahkabawi, dan Syeikh Machfud at-Tarmasi dari Termas, Pacitan.

“Kiai Bisri muda berguru dari satu Kiai ke Kiai yang lain. Berpindah dari satu Pesantren ke Pesantren yang lain. Beliau tumbuh dan berkembang langsung di bawah pengawasan ayahanda, Kiai Syansuri,” ujar Kiai Muid.

Kiai Bisri juga dikenal sebagai sosok yang aktif di dunia politik. Dalam catatan biografi tersebut, Kiai Bisri sangat menjunjung kepentingan umat dan memperjuangkan umat karena terpilih sebagai anggota DPR dari suara rakyat.

Ketegasannya sangat terlihat manakala dikeluarkan Dekrit Presiden tahun 1959 yang membubarkan DPR dan MPR yang menggantikan dengan DPRS dan MPRS.

“Peristiwa ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, termasuk NU,” kata dzurriyah Kiai Bisri ini.

Haul ke-41 Kiai Bisri ke-41 yang dirangkai dengan Haul ke-71 Nyai Nur Khodijah serta Harlah PP. Mambaul Ma`arif Denanyar ke 105 ini dihadiri oleh ribuan santri serta sejumlah ulama dan tokoh nasional.

Nampak hadir Rois Aam PBNU, KH. Miftahul Achyar, Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar, Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar, Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, KH. Bahaudin Abdussalam, dan sejumlah tokoh lainnya. (Red)

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Event

Arsip

RADIO9