Kolom Pencarian
Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

Agenda

Arsip


KH Nuruddin A. Rahman, Dapur Pemikir BASSRA

KH Nuruddin A. Rahman, Dapur Pemikir BASSRA

oleh: Nur Fakih Tahun 1992. Tahun pertama saya bertugas di Madura. Berkantor di kota Bangkalan, saya mengendalikan empat kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Bukan persoalan gampang mengenali Madura baik tentang sosio geografisnya, kulturnya, maupun hubungan antara prilaku masyarakatnya dengan pemahaman agamanya. Setahun kemudian saya mulai sedikit memahami banyak hal tetapi lebih banyak hal lagi

oleh: Nur Fakih

Tahun 1992. Tahun pertama saya bertugas di Madura. Berkantor di kota Bangkalan, saya mengendalikan empat kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Bukan persoalan gampang mengenali Madura baik tentang sosio geografisnya, kulturnya, maupun hubungan antara prilaku masyarakatnya dengan pemahaman agamanya.

Setahun kemudian saya mulai sedikit memahami banyak hal tetapi lebih banyak hal lagi yang belum saya mengerti. Perkenalan saya dengan Madura mulai mendalam setelah bergumul dengan rekan rekan yang ada di Bangkalan, seperti Pak Umar (alm), Pak Choirul Rizki (alm) Pak Hori (alm) dan Pak Kasiono (alm). Di Sampang saya banyak dibantu Pak Khoirudin Sastra dan di Pamekasan tangan Pak Muhsin begitu ringannya membantu dalam mengeksekusi pelbagai persoalan di kabupaten tembakau ini, begitu juga alm Mas Bob orang Jakarta yang numpang hidup di Pamekasan. Di Sumenep, saya mempunyai Sahib yang menjadi pasukan tempur yang handal, yaitu Mas Zaenal Lenon (alm). Selain itu ada Mas Antok dan Mas Hanan Jalil yang sekarang menjadi ketua Partai Nasdem, kota Malang.

Berkat mereka itu saya bisa memasuki jantung kultural Madura; Klebun, Blater dan Kiai. Ketiganya menjadi tokoh sentral tempat bersandar masyarakat dalam bertindak-tanduk.

Mungkin ini taqdir saya, saat itu ada momentum yang tepat yang membuat saya lancar jaya diterima masuk ke pusat kekuatan kultural ini. Issu industrialisasi yang dihembuskan kencang dari Jakarta berkaitan dengan pembangunan jembatan Surabaya-Madura, pembebasan lahan dan program kesejahteraan masyarakat.

Kiai selain keilmuannya, kharismanya dan kedekatannya dengan santri sebagai client memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam merespon issu industrialisasi di Madura ini. KH Cholil AG (alm) dan KH Abdulla Schal (alm) pewaris darah Syeikhona Cholil terlihat sangat aktif membicarakan issu industrialisasi ini. Kiai-kiai berpengaruh di Bangkalan diajak diskusi intensif. Banyak tokoh didatangkan untuk menjadi nara sumber, termasuk Emha Ainun Najib (Cak Nun) yang banyak menginjeksi wawasan budaya modern.

Dari diskusi-diskusi itu saya menjadi orang luar Madura yang diajak menjadi peserta aktif. Dari acara halaqah sederhana, akhirnya melebar dengan mengajak seluruh kiai sepuh, kiai muda, akademisi dan intelektual se-Madura untuk membentuk BASSRA (Badan Silaturrahmi Ulama Madura). Dari kalangan kampus ada Dr. Fasichul Lisan yang saat itu menjabat Rektor Universitas Bangkalan (kini Universitas Trunojoyo.)

BASSRA setapak demi setapak melangkah menjadi kekuatan baru yang sangat diperhitungkan oleh pemerintah ORBA. Siapa pun yang mau membicarakan industrialisasi, BASSRA menjadi pintu utamanya.

Liem Sio Liong yang sudah lama menguasai ratusan hektar lahan di Bangkalan untuk pengembangan pabrik semennya terpaksa dihentikan karena ulama BASSRA belum memberi lampu hijau.

Prof. Dr. Ing BJ Habibie yang saat itu menjadi anak emas Pak Harto diberi tugas untuk berkomunikasi dengan ulama BASSRA yang dimediatori mantan Gubernur Jatim Moh. Noer (alm). Dipilihnya BJ Habibie sungguh sangat ok, karena kebetulan saat itu dia menjadi ketua umum ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) sekaligus konseptor dan pengendali Badan Otorita Batam.

ICMI yang mengijo-royo royokan Indonesia membuat ulama BASSRA yang dikomandani KH Cholil AG membuka pintu lebar-lebar untuk menerima Menristek ini. Bersama pengurus ICMI, BJ Habibie datang langsung bersilaturrahmi dengan ulama BASSRA di Pamekasan.

Paparan Habibie berhasil meyakinkan ulama. Dan pengurus BASSRA yang semula bersikeras menolak rencana industrialusasi di Madura mulai sedikit melunak dan berpikir sedikit rasional.

Mereka mau diajak studi banding ke Badan Otorita Batam dan ke IPTN, Bandung. Saya pun ikut dalam rombongan ulama BASSRA ini. Namun, meski sudah dicharge wawasannya, ulama se Madura ini masih berpikiran Industrialisasi diakui banyak mendatangkan manfaat tetapi madlorotnya dinilai lebih besar.

Gerakan kultural ulama BASSRA dalam menyiapkan industrialisasi Madura tidak lepas dari peran dan kerja keras kiai- kiai muda seperti Ra Syafik Rofi’i yang waktu itu menjadi ketua GP Ansor Bangkalan. Dalam perjalanan politiknya dia pernah menjadi ketua DPRD Bangkalan dan Wabup dua periode kabupaten Bangkalan.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah peran KH Nurudin A Rahman,S.H. yang saat itu menjadi kiai muda di Ponpes Ketengan, Burneh milik sang mertua. Dialah yang menjadi dapur pemikir utama di BASSRA.

Kiai Nurudin adalah anak desa yang tidak memiliki darah biru, bukan keturunan kiai pengasuh pondok pesantren. Namun beliau santri cerdas yang selalu dirindukan tausiyahnya oleh masyarakat. Kerja keras dan pemikirannya yang moderat, akhirnya beliau diberi amanah untuk menjadi Sekretaris BASSRA. Melalui diskusi-diskusi yang intensif dalam setiap waktu membuat saya lebih banyak kenal dengan kiai- kiai di Madura dan Kiai Nurudin pun namanya semakin populer dan kemampuannya semakin canggih untuk menjadi dirijen ulama se Madura.

Setiap bersilaturrahmi dengan ulama di Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep saya selalu diajak mendampinginya. Setelah saya pindah tugas ke Gresik, tahun 1995 saya tidak berjumpa lagi dengannya.

Kiai Nurudin karirnya terus moncer. Dia telah menjadi tokoh penting mulai tingkat lokal, regional dan nasional. Dia pernah menjadi senator mewakili Dapil Jatim dan juga menjadi Pengurus Wilayah NU Jatim dan menjadi Wakil Ketua MUI Jatim.

Sejak meninggalkan Bangkalan dua kali saya bertemu dengan Kiai Nurudin. Pertama waktu saya di KPU Gresik sekitar tahun 2005 dan yang kedua pada saat pertemuan MUI Koorwil IV di Gresik pada Nopember 2019. Saya tidak tahu kalau itu pertemuan terakhir, padahal saya terlanjur janji untuk sowan tabarukan di pondok pesantrennya Al Hikam, di Burneh, Bangkalan. Kata Kiai Nurudin pesantrennya selain dikembangkan pendidikan nonformal juga sudah didirikan pendidikan formal mulai TK sampai perguruan tinggi.

Sebelum saya memenuhi janji, pak kiai pada Jumat 8 Januari 2021 menjelang berganti hari Sabtu kemarin, lebih dulu dijanjikan Allah untuk bertemu denganNya di surga. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. (*)

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Agenda

Arsip