Kesedihan Mendalam Kehilangan KH Aziz Masyhuri, Sang Kiai Dokumentator

0
761
Bagikan Sekarang

Oleh: Syukron Dosi*

Namanya sudah tidak asing lagi bagi kalangan dunia pesantren. Saya secara pribadi mengenal beliau dari Majalah Aula, sejak ayah saya berlangganan majalah legendaries terbitan PWNU Jatim tersebut sejak edisi pertama hingga wafat.

Pada edisi tahun 80-an hingga 90-an hampir setiap edisi majalah itu memuat namanya, baik sebagai penulis maupun tokoh yang diberitakan sebagai narasumber seminar ataupun halaqah di lingkungan NU.

Ayah saya juga mengkoleksi satu set buku Ahkamul Fuqoha (kumpulan hasil bahtsul masail diniyyah dari muktamar ke muktamar yang didokumentasikan KH Aziz Masyhuri. Karya tulis lainnya adalah Biografi 99 Kiai, Hasil Muktamar Jamiyah Ahlit Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyah dan sebagainya.

Seingat saya, beliau juga pernah menjabat sebagai fungsionaris Lajnah Ta’lif wan Nasyr (Lajnah Penulisan dan Penerbitan) PBNU dan PP Rabithah Ma’ahid islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren) NU.

Saat beliau menjabat Ketua PP RMI, lewat Mukernas V Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) di Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Pajarakan, Probolinggo, bersama KH Mutawakkil Alallah memediasi Gus Dur dengan pemerintah kala itu, Soeharto. Proses islah itu kemudian kita kenal dengan “Salaman Genggong”.

Lewat buku beliau, kita bisa memahami bagaimana para muassis NU melakukan kontekstualisasi kitab kuning yang oleh sebagaian kalangan justru dianggap sebelah mata. Seperti cerita Mbah Wahab saat mengambil rujukan dari literatur Kitab Fath al-Qarib dan syarahnya (al-Baijuri) untuk memberikan petunjuk pada Bung Karno terkait kemelut Irian Barat kala itu.

Karena kecintaannya terhadap forum bahtsul masail, Kiai Aziz, sapaan kesehariannya selalu mengikuti dan mendokumentasikan mulai tingkat bawah sampai dengan forum nasional. Bahkan hingga kini banyak karya tulisnya yang menjadi bukti kecintaan kepada organisasi warisan para aulia ini.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah Denanyar Jombang ini pernah berpesan: “Kita mengagumi ulama dari luar negeri, namun kita kerap tidak menyadari bahwa ulama luar negeri sangat kagum kepada ulama Nusantara.”
Bahwa khazanah ulama Nusantara adalah warisan tidak ternilai yang harus kita rawat, jaga dan terus dikaji untuk menjadi solusi peradaban Islam hari ini dan esok.

Keluarga besar NU dan langit pesantren kembali berselimut duka. Kiai Aziz Masyhuri wafat pada Sabtu (15/4) pada usia 75 tahun. Ratusan karya telah lahir dari ketekunan kiai kelahiran Tuban, 17 Juli 1972 ini. Di antaranya, 95 judul buku berbahasa Indonesia, 26 buku berbahasa Arab, 7 buku terjemahan bahasa Jawa (makna gandul) dan buku-buku lainnya.

Betapa kita sangat kehilangan karena kiai yang dikenal sebagai dokumentator akhirnya berpulang. Ya, Kiai Aziz merupakan ulama yang tekun dalam mendokumentasikan hasil-hasil bahtsul masail dalam sejumlah buku, sehingga keputusan penting tersebut dapat tersebar ke masyarakat dengan mudah.

Kiai Aziz merupakan suami dari Nyai Hj Azizah Aziz Bisri Syansuri. Dari pernikahan ini dikaruniai tiga orang keturunan.

Pendidikannya ditempuh di beberapa pesantren dan lembaga pendidikan. Antara lain di Pesantren Maba’ul Ma’arif Denanyar, Pondok Lasem Jawa Tengah, Pondok Krapyak Yogyakarta dan sempat belajar di Madinah dan Makkah, Arab Saudi. Sedangkan di NU, Kiai Aziz berkhidmah sejak menjalani masa muda di Tuban. Mulai dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU dan Pergunu. Kemudian di tingkat wilayah, pernah aktif di LP Ma’arif NU Jawa Timur, Lembaga Dakwah, Lembaga Kemaslahatan Keluarga, Wakil Katib Syuriah PWNU Jatim, Wakil Rais Syuriah dan Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). Sementara di tingkat pusat, Kiai Aziz sempat diberi amanah menjadi A’wan PBNU dan Ketua PP RMI.
Selamat jalan kiai dokumentator. Lahul fatihah

*Pecinta khazanah kiai Nusantara, dan aktif di PW Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU Jatim.

Leave a reply