Katib Syuriyah PBNU Mengurai Tiga Tujuan Utama Diklat Aswaja

"Hal ini menjadi sangat penting karena sebagai bekal di luar pondok pesantren, yang merupakan medan perang bagi banyak aliran ideologis sehingga mereka tidak sampai terperosok pada aliran yang melenceng”.
0
222
Bagikan Sekarang
Katib Syuriah PBNU bersama Tim Aswaja NU Center Jombang

Katib Syuriah PBNU bersama Tim Aswaja NU Center Jombang

Jombang – Aswaja NU Center PCNU Jombang di bawah kepemimpinan Ustaz Ahmad Zainuri kembali menggelar Diklat Aswaja.
Kali ini sasarannya adalah para santri Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang, dibagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama pada Sabtu, Ahad, 20-21 Maret 2021, dan gelombang kedua diagendakan pada pertengahan April 2021.

Untuk gelombang pertama, diselenggarakan di SMA Darul Ulum 1, dan SMA Darul Ulum 2, serta Asrama Hidayatul Quran, asuhan Dr. KH. Afifuddin Dimyathi (Katib Syuriyah PBNU) pada Sabtu – Ahad, 20-21 Maret 2021 dari pkl 08.00 hingga siang hari.

Dalam sehari materinya ada tiga sesi, yaitu Manhaj Fikr Aswaja, Fikih dan Landasan Amaliyah, dan Akidah Ahlussunnah.

Harapan para pengurus Aswaja NU Center, dan impian untuk generasi muslim masa kini dan ke depan adalah, para santri itu kuat imtaqnya, kuat ipteknya,
bagus akhlaqnya, kuat ekonominya, bermanfaat, “ujar Ustaz Sururi Sekretaris PC Aswaja NU Center PCNU Jombang.

Kiai Awis, panggilan akrab Kiai Afifuddin Dimyati di samping sebagai Katib Syuriyah PBNU, beliau juga Wakil Ketua Aswaja NU Center PWNU Jatim, dan sekaligus menjadi Dewan Pakar Aswaja NU Center PCNU Jombang.

Dalam bincang akrab bersama NU Online beliau menyampaikan bahwa tujuan Diklat Aswaja adalah sebagai berikut:

“Memperluas wawasan keaswajaan yang tidak terbatas pada ranah amaliyah, tapi juga mencakup ranah fikrah dan manhaj”

“Membekali para santri dengan pola berpikir moderat dan toleran yang penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia”

“Mengenalkan alur perjuangan para ulama Nusantara di bidang akidah dan amaliyah agar bisa menjadi motivasi untuk meneruskan dakwah mereka” demikian dinyatakan Kiai yang banyak menulis kitab dalam bahasa Arab ini.

Ahlussunnah wal Jamaah menurut Imam Abu Hanifah.

Sementara itu dalam sesi Manhaj Fikrah Aswaja, Yusuf Suharto, juga sebagai Dewan Pakar Aswaja NU Center PCNU Jombang Mengurai pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah menurut Imam Abu Hanifah.

“Para ulama senantiasa mempunyai formulasi menarik tentang Ahlussunnah wal Jamaah. Di antaranya adalah Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi.”

“Suatu saat Abu Hanifah ditanya tentang bagaimana karakteristik Ahlussunnah wal Jamaah. Beliau menjawab bahwa Ahlussunnah wal Jamaah itu adalah sesiapa yang mengutamakan Abu Bakr, dan Umar. Dan sesiapa yang mencintai Utsman dan Ali.” ujar pengurus Aswaja NU Center PWNU Jatim ini.

“Inilah di antara karakter atau manhaj Aswaja, yaitu menghormati para sahabat, baik dari kalangan ahli bait, maupun bukan.” ujar Ketua Umum Persatuan Dosen Agama Islam (Persada) Nusantara Jatim ini.

Narasumber yang terlibat terdiri dari para pengurus Aswaja Center dan Dewan Pakar.
Ada Ustadz Sholahudin, Ustadz Abdul Majid, Ustadz Zainuri, Ustadz Didik, Ustadz Roziki, Ustadz Satar, Ustaz Abbas, dan ustadz Rahmat.

Pengenalan Akidah Aswaja untuk Santri

Pada sesi materi akidah Aswaja di SMA Darul Ulum 1, Ustaz Satar selaku pemateri pertama pada diklat aswaja ini dengan pembahasan akidah aswaja an-nahdliyah menyampaikan “Bahwasanya diklat aswaja ini merupakan pengenalan akidah aswaja untuk para santri, oleh karena itu, ke depannya nanti para siswa harus mendalami lagi tentang aqidah aswaja karena itu merupakan salah satu pokok agama yang wajib dipelajari oleh umat muslim, dan yang tidak kalah penting lagi adalah bahwa kita harus yakin bahwa akidah yang selama ini kita pegang merupakan aqidah yang benar, akidah yang sesuai dengan Rasululloh dan para sahabatnya, terlebih bagi santri kelas akhir yang akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi ataupun yang kembali kepada masyarakat.

“Hal ini menjadi sangat penting karena sebagai bekal di luar pondok pesantren, yang merupakan medan perang bagi banyak aliran ideologis sehingga mereka tidak sampai terperosok pada aliran yang melenceng”.

Keterangan foto Kiai Afifuddin bersama salah satu narasumber dengan foto dua kitab karya terbaru beliau.

Leave a reply