Jangan Baperin Khalifah, Pesan Aswaja NU Jombang

0
261
Bagikan Sekarang

JOMBANG — Substansi “sistem khilafah” yang disebut dan dinubuatkan oleh Rasulullah adalah kepemimpinan yang adil.

Karena itulah Rasulullah menyebut ada tiga puluh tahun masa khilafah, yang diartikan para ulama adalah kepemimpinan berurutan empat sahabat (Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali). Pada masa ini adalah Khulafaur Rasyidin; khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Nah, di akhir zaman, khalifah yg menegakkan keadilan itu ada pada masa Khalifah al-Mahdi (Imam Mahdi), yang sekaligus sebagai antaran antara tanda kiamat kecil dengan kiamat besar. Jadi ketika Imam Mahdi sudah muncul, kiamat benar-benar mau dekat.

Bagaimana ciri pemimpin “khalifah” sebelum Al-Mahdi? Cirinya adalah sebagai bukan “khalifah” yang memenuhi keadilan, karena justru masa sebelum Al-Mahdi itu penuh kesewenang-wenangan. Sehingga makna “khalifah” sebelum Al-Mahdi itu ya bermakna secara bahasa saja, atau hanya sebutan saja. Kapan masa pra Imam Mahdi itu terjadi? Wallahu A’lam. Rasa-rasanya sih, masih sangat lama.

Terus, apa yang kita lakukan saat ini? Kita ini sudah melaksanakan perintah agama, untuk memilih pemimpin dengan cara modern, pemilu. Jadi, kepemimpinan yang sudah sah ini, adalah bagian dari menjalankan tuntunan agama. Selanjutnya, kita cintai negeri ini, sepenuh hati dan sepenuh ikhtiar agar masing-masing kita memaksimalkan peran. Tentu kepemimpinan yang ada tidak seadil masa al-Mahdi. Namun, tak perlu diorat-arit, karena akan mendatangkan mafsadah (kerusakan). Tahu kan, apa yang sudah terjadi di luar sana. Porak poranda karena pertentangan yang tak proposional.

Bentuk negara kita ini sudah merupakan ikhtiar final bangsa. Kita nikmati, dan kita jalani. So, jangan halu ya!

Demikian catatan Ustadz Yusuf Suharto dari Aswaja NU Center PCNU Jombang. (Red)

Leave a reply