Kolom Pencarian
Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

Agenda

Arsip


‘Ibda Binafsik”, Mulailah dari Diri Sendiri

‘Ibda Binafsik”, Mulailah dari Diri Sendiri

Pakar Tafsir Al-Quran Prof Muhammad Quraish Shihab mengisahkan hal itu. Ia ingin menekankan, penerapan akhlak dan cita-cita ke arah lebih baik harus diawali dari diri sendiri.

DAKWAH ISLAM DAMAI — Seseorang bercita-cita ingin mengubah dunia. Dirasakan lama-lama karena perjalanan usia, hal itu sulit dilakukan. Maka, ia pun menurunkan kadarnya. Ia ngin mengubah masyarakat di negerinya. Ini pun dirasakan sulit baginya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mengubah ke arah lebih baik keluarganya. Ia pun bertambah usia. Lalu berpikir, “Seandainya saya memulai sejak dulu dari diri saya sendiri, niscaya saya mampu mengubah yang lebih luas dari sedari dulu”.

Pakar Tafsir Al-Quran Prof Muhammad Quraish Shihab mengisahkan hal itu. Ia ingin menekankan, penerapan akhlak dan cita-cita ke arah lebih baik harus diawali dari diri sendiri.

Sebagaimana pesankan Nabi Muhammad SAW , “Ibda’ binafsik tsumma man ta’ulu”. Mulailah dari diri sendiri, kemudian orang di sekitarmu. Untuk melakukan perubahan, fokuslah pada diri sendiri, baru kemudian diperluas.
Rasulullah menguncapkan hal itu, jauh sebelum Mahatma Gandhi.

Mulailah dari diri sendiri. Mengapa? Mahatma Gandhi kemudian pun berujar “If you want to change the world, start with yourself”.
Beberapa point yang dapat kita gali dari hadits di atas adalah:

Al-Quran telah menyebutnya,

  1. Innamal a’malu bin niyaat

Sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung dari niatnya.
Niat siapa?
Tentu niat kita sendiri.

Niat seperti apa?
Untuk beberapa jenis ibadah, niat ada yang berpendapat sunnah untuk dilafadzkan, tetapi niat dalam hati itu wajib.

Niat untuk apa?
Nah ini yang sering masih kita lakukan secara keliru, ibadah yang sempurna sekalipun, bila niatnya adalah untuk terlihat alim, sholih, dan islami, tentu ibadahnya akan menjadi riya. Oleh karenanya, niat untuk ibadah itu harus diluruskan. Untuk level saya, mungkin ibadah masih diniatkan untuk memperoleh pahala…

Mudah-mudahan kita bisa berniat ibadah sampai levelnya Sayyidah Rabi’ah Al- Adawiyyah, yang ber syair :

” Tuhanku, tenggelamkan aku dalam lautan cinta-Mu…Hingga tak ada sesuatu pun yang menggangguku dalam jumpa-Mu ~ ~ Ya Allah, jika aku menyembah-Mu, karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya…Dan jika aku menyembah-Mu, karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya…Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan wajah-Mu yang abadi padaku.”

Dan pada suatu saat beliau membawa air di tangan kiri dan obor di tangan kanan, ketika orang bertanya “Ke mana engkau akan pergi Rabi’ah?”, beliau menjawab “Aku mau ke langit, untuk membakar surga dan memadamkan api neraka, agar keduanya tak menjadi sebab manusia menyembah-Nya. Sekiranya Allah tak menciptakan pahala dan siksa, masih adakah diantara mereka yang menyembah-Nya?”

  1. Akhlaq yang baik

Apa yang dimaksud dengan akhlaq yang baik? Yaitu akhlaq — atau budi pekerti menurut KBBI — yang disuritauladani oleh Rasulullah Muhammad SAW. Seperti yang termaktub pada Al-Qur’an surat Al-Ahzab, 33: 21:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Demikian semoga bermanfaat. (Red)

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos

Agenda

Arsip