Gus Yahya: Moderasi Islam, Tantangan NU dan Muhammadiyah

0
413
Sebagai solusi, Yahya Staquf mengajak semua pihak untuk berani kembali lagi melakukan peninjauan terhadap sikap keagamaan terhadap wacana integrasi nasional dengan wawasan sejarah yang tepat.
Bagikan Sekarang

JAKARTA : Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf mengatakan, organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ditantang untuk mampu mengawal sikap tengahan (moderasi) yang jernih dalam arti yang sebenarnya di tengah sengitnya persaingan politik identitas.

Sebab, dalam kacamata sempit politik partisan, tema moderasi sering digunakan sebagai komoditas politik untuk menyerang pihak yang tak sejalur.

“Tema moderasi banyak dijadikan jargon politik untuk menyerang pihak lain yang berbeda secara politik. Contohnya, orang yang mengkritik pemerintah dianggap radikal dan yang pro pemerintah dianggap moderat,” tutur Gus Yahya, panggilan akrab Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang.

Sebagai solusi, Yahya Staquf mengajak semua pihak untuk berani kembali lagi melakukan peninjauan terhadap sikap keagamaan terhadap wacana integrasi nasional dengan wawasan sejarah yang tepat.

Dalam forum webinar Sekolah Politik: Indonesia Mengaji Moderasi, Selasa 8 Desember, Gus Yahya Staquf berharap kekuatan masyarakat madani seperti Muhammadiyah dan PBNU mampu membina umatnya untuk terus mengawal sikap moderasi dalam keteladanan jujur.

Kondisi umat Islam di Indonesia yang belum sejahtera, ‘yadus sufla’ (tangan di bawah) mengakibatkan persoalan politik identitas yang serba dibumbui agama mengaburkan objektivitas untuk bersama-sama melihat masalah secara jernih.

Bersyukurnya, anatomi antropologis karakter bangsa Indonesia yang rukun membuat Indonesia relatif lebih selamat dari konflik horizontal akibat politik identitas sebagaimana terjadi pada banyak negara muslim lainnya.

Persoalan politik identitas negara bangsa menurut Yahya meruncing pasca akhir perang dunia pertama yang tidak bisa dihindari sebagai kemestian politik global.

Sebagai solusi, Yahya Staquf mengajak semua pihak untuk berani kembali lagi melakukan peninjauan terhadap sikap keagamaan terhadap wacana integrasi nasional dengan wawasan sejarah yang tepat.

“Karena kalau tidak kita perhitungkan, maka akan menjadi resiko yang universal. Ini yang harus kita hadapi dengan frontal dan jujur. Karena masalah-masalah ini bukan khas Islam, bukan khas Indonesia. Krisis ini universal terjadi di mana-mana,” jelasnya.

Sebagai solusi, Yahya Staquf mengajak semua pihak untuk berani kembali lagi melakukan peninjauan terhadap sikap keagamaan terhadap wacana integrasi nasional dengan wawasan sejarah yang tepat.

“Islam harus berupaya untuk mengkontribusikan yang terbaik untuk menyumbang masa depan bagi seluruh peradaban umat manusia seluruhnya sesuai misi Nabi saw menjadi rahmat kepada seluruh alam semesta,” kata Yahya. (Red)

Leave a reply