Home / Fikrah / Tirakat untuk Gus Dur

Tirakat untuk Gus Dur

Oleh: Candra Malik*

Nyai Sholichah selalu memilih dan memilah biji-biji beras dari karungnya, mengambil sedikit yang terbaik, lalu dipisahkan dari yang kebanyakan. Ia dengan setia melafalkan shalawat tiap memungut beras, sebiji demi sebiji, membasuhnya dengan lembut, dan kembali menjumput beras sebutir demi sebutir untuk dimasukkan ke dandang. Setiap tahap diiringi shalawat hingga periuk nasi pun siap untuk menanak.

Tidak ada yang boleh menyentuh nasi yang mengandung shalawat itu selain ayah mertuanya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, suaminya KH Wahid Hasyim, dan anak sulungnya Abdurrahman Ad Dakhil. Hanya untuk ketiga laki-laki istimewa itu, Solichah setia melantunkan shalawat tiap menanak nasi. Dan, nasi itu pelan namun pasti menumbuhkan Durrahman hingga cukup usia. Ya, Abdurrahman Addakhil itulah Gus Dur, yang telah sewindu wafat.

Saya benar-benar tidak tahu hingga usia berapa Gus Dur kecil mendapat perilaku istimewa seperti itu dari ibundanya. Saya hanya penasaran, selain Gus Dur memang sosok jenius secara personal, sosial, dan spiritual, faktor apakah yang menjadikan Presiden Republik Indonesia ke-4 ini bisa sehebat itu semasa hidupnya. Dan, saya memeroleh jawaban dari Dr Ngatawi al-Zastrouw, asisten Gus Dur. “Bu Solichah betul-betul men-shalawati beras itu sebiji demi sebiji,” ucapnya.

Sepeninggal suaminya, KH Wahid Hasyim, Menteri Agama Republik Indonesia pada era Presiden Soekarno, Nyai Solichah tak pulang ke Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Ia tetap tinggal di rumah Jalan Amir Hamzah 8, Matraman, Jakarta meski harus bertahan hidup dengan berjualan beras. Ia meneruskan pengabdian Kiai Wahid untuk Nahdlatul Ulama dan Indonesia, sebagai Ketua Muslimat (1959 hingga wafat) dan anggota DPR/MPR (1971-1987).

Betapa beruntung Gus Dur mempunyai ibunda seorang Solichah Munawwaroh, putri KH Bisri Sansuri, pun sebaliknya. Hingga sewindu masa wafatnya, makam Gus Dur masih ramai peziarah, bahkan tanpa jeda hingga menjelang pukul 03.00. Tak pernah sepi pula haul yang diadakan di Ciganjur, Jakarta Selatan, kediamannya yang hingga kini masih ditinggali Nyai Sinta Nuriyah, istrinya, dan di mana pun peringatan itu digelar masyarakat.

Tentu saja, masing-masing dari kita pun beruntung dilahirkan oleh ibu kita, yang memiliki kasih sayang tanpa batas sejak kita masih merah orok hingga tiba napas terakhirnya berembus. Tiap ibu punya cara luar biasa mengistimewakan anaknya, yang bisa jadi kita mengetahui tirakat itu, bisa pula ibu tak membiarkan orang lain tahu ia menangis amat lama dalam sujud malam kala kita terlelap. Gerak-gerik ibu, termasuk diamnya, adalah bahasa cinta.

Sangat tepat ketika Rasulullah bersabda tentang pada siapa pertama kali kita wajib berbakti. Muhammad SAW mengatakan, “Ibumu,” hingga tiga kali, baru kemudian,” Ayahmu.” Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ini meneguhkan ayat-ayat Allah di Al Quran yang mewajibkan kita untuk berbakti pada kedua orangtua, antara lain dalam Q.S. Al Ahqaaf: 15 dan Q.S. Luqman: 14. Lebih dari itu, anak tidak perlu dalil untuk mencintai ibu, kan?

Sin binti Abdullah Ali, ibu saya, mengatakan bahwa ia akan melakukan apa pun demi anak-anaknya, bahkan jika pun dengan mengorbankan keselamatan jiwa raganya. Ia berpesan, “Sebaik-baik orangtua ialah orangtua yang rajin beribadah dan tirakat untuk masa depan anak-anaknya. Kasih sayang tidak pernah cukup hanya dengan menyuapinya, tapi juga dengan berdoa untuknya.” Hingga sebelum wafat, ibu berwasiat agar anak-anaknya jadi orangtua yang baik.

Selemah-lemahnya seorang ibu, ia masih kuat dan rela berikhtiar sekuat-kuatnya untuk mengasuh, merawat, mengurus, dan membesarkan anak-anaknya sejak bayi, walau seorang diri. Pun dalam payah dan susah, dalam letih dan sedih. Beda dengan anak terhadap ibunya. Walaupun semua anak bersatu dan bersama-sama berusaha, belum tentu mereka kuat, atau rela berusaha kuat sekuat-kuatnya, untuk mengurus ibunya dengan tulus ikhlas.

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa…” sering kita nyanyikan di kala sekolah dasar dulu. Semakin hari, kita semakin tidak mempunyai waktu untuk ibu. Padahal, seperti dinyanyikan Iwan Fals, kasih ibu seperti udara. Ya, tak akan pernah mampu kita membalasnya. Bagaimana pun, benar adanya betapa “kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa.” Tiada yang sanggup melampaui kasih sayang ibu.

Setiap ibu dan calon ibu bisa meneladani kisah Nyai Solichah Munawwaroh. Yang sudah pasti, masing-masing mempunyai ibu pula yang bisa dicontoh. Tradisi ibu yang berasal dari nenek, yang bermula dari nenek buyut, terus ke atas, sampai pada leluhur, adalah kebaikan yang perlu dilestarikan, terutama dalam mengasuh, merawat, mengurus, dan membesarkan anak. Dan, setiap anak memiliki kekhasan untuk didukung dalam perjalanan hidupnya menemukan jatidirinya sendiri.

Gus Dur, dan pada pendahulu kita, adalah contoh terbaik dari anak-anak negeri ini. Tentu, kita berharap kita menjadi orangtua terbaik pula bagi anak-anak kita, dan anak-anak kita pun menjadi anak-anak terbaik. Pada 22 Desember 2017, kita tak hanya memeringati Hari Ibu dan Haul ke-8 Gus Dur. Kita juga patut merenungkan, betapa ketika mensyukuri pernah lahir seorang anak istimewa, kita selayaknya juga berterima kasih pada ibundanya.

*Budayawan sufi

About saiful

Check Also

IMG-20180918-WA0059

Gus Ipul Pamit kepada Kiai Jawa Timur, Ini Ungkapan Terakhirnya

JOMBANG – H Saifullah Yusuf , selaku Wakil Gubernur Jawa Timur, menyampaikan pamit kepada para …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *