Home / Fikrah / Sekilas tentang Shalat Idul Fitri

Sekilas tentang Shalat Idul Fitri

Oleh M Sulton Fatoni*
Selepas puasa Ramadhan, umat Islam menyelenggarakan shalat Idul Fitri. Ada yang shalat di masjid, di tanah lapang, juga di surau. Masyarakat muslim memang mengenal dua lebaran, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Kedua momen lebaran ini ditandai dengan shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha.

Kalimat “idul fitri” itu terdiri dari dua kata, yaitu ‘ied yang berarti “kembali”, dan fithri artinya bersih. Disebut “shalat ied” sebagai simbol agar kita memperbanyak kembali kepada Allah dengan cara beribadah kepada-Nya.

Shalat Idul Fitri itu termaktub dalam al-Quran dan dilakukan Rasulullah beserta para sahabatnya. Shalat ‘ied pertama kali yang Rasulullah lakukan itu Idul Fitri pada tahun kedua hijrah. Imam Mawardi mencatat bahwa saat itu pula diwajibkan zakat fitrah. Karena itu maka para ulama sepakat bahwa shalat Idul Fitri itu sunnah muakkad, sangat dianjurkan.

Sedangkan waktu shalat Idul Fitri cukup panjang, yaitu setelah matahari terbit di ufuk timur dan berakhir saat memasuki waktu shalat Dhuhur (ba’da zawal). Meskipun waktunya panjang, mayoritas masyarakat muslim Indonesia lebih memilih shalat ‘ied saat matahari baru muncul di ufuk timur. Mereka bersiap shalat ‘ied selesai shalat Shubuh dan memulai shalat ‘ied kira-kira pukul 06.30 Wib. Ada juga baru mulai shalat ‘ied sekitar pukul 07.30 wib, seperti masjid Istiqlal Jakarta.

Shalat Idul Fitri dilakukan secara berjamaah. Namun bagi seseorang yang sedang udzur berjamaah tetap disunnahkan shalat Idul Fitri, seperti seseorang yang sedang menempuh perjalanan, orang yang sedang sendirian di suatu tempat dan lainnya.

Pada rakaat pertama shalat Idul Fitri menggunakan takbir sebanyak tujuh kali di luar takbiratul ihram. Sedangkan rakaat kedua menggunakan takbir sebanyak lima kali di luar takbir berdiri dari sujud. Antara tiap-tiap dua takbir hendaknya ada jeda waktu kira-kira cukup untuk membaca “subhanallah walhamdulillh wa la ilaha illallah wallahu akbar”. Bacaan imam pada shalat Idul Fitri dikeraskan (jahr).

Seusai shalat Idul Fitri disunnahkan khutbah dua. Jadi khutbah shalat Idul Fitri kebalikan dari khutbah shalat Jumat yang dilakukan sebelum shalat. Jika khutbah Idul Fitri dilkukan sebelum shalat, maka khutbah tersebut tidak terhitung kesunnahan salat ‘ied. Pada khutbah pertama sunnah dibuka dengan takbir sebanyak sembilan kali. Sedangkan pada rakaat kedua sunnah takbir sebanyak tujuh kali.

Shalat ‘Idul Fitri boleh diselenggarakan di tanah lapang. Meskipun shalat Idul Fitri diselenggarakan di kota Mekkah tetap boleh menyelenggarakan shalat ‘ied di tanah lapang. Hanya saja shalat ‘ied di Masjidil Haram tetap lebih utama. Antara tanah lapang dan masjid dalam konteks shalat Idul Fitri, para ulama sepakat masjid yang lebih diprioritaskan. Selamat Berpuasa.

*Penulis adalah Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

About saiful

Check Also

karnaval1

NU Surabaya Meriahkan Tahun Baru Islam dengan Gebyar Karnaval

Surabaya – Tampak ribuan peserta mengikuti Gebyar Karnaval 1 Muharram yang digelar oleh Majelis Wakil …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *