Home / Khutbah / Ramadhan, 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul

Ramadhan, 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul

Oleh: KH Ma’ruf Chozin

Ustad Maruf Khozin

Tentang ketaqwaan, Rasulullah SAW bersabda : idzaa amartukum bi amrin fa’tuu minhu mas tatha’tum, wa maa nahaitukum fajtanibuu (Apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka lakukan kewajiban itu sesuai dengan kemampuan kalian masing-masing, dan apapun yang telah aku larang, maka jauhilah). (HR Bukhori dan Muslim).

Tentang hari Jumat, Rasulullah SAW bersabda : Aljum’atu haqun waajibun alaa kulli muslimin fii jamaa’ah illa min arba’ah, almaratu, ash shobiy, musaafiru, al mariidh. (Shalat jumat adalah kewajiban bagi setiap umat Islam laki-laki secara berjamaah, kecuali 4 orang, yaitu orang perempuan, anak kecil, orang yang sedang dalam perjalanan ( HR Abu Dawud).

Ada satu amalan yang sangat utama, yakni memperbanyak bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda : “Hari yang paling utama bagi kalian adalah hari jum’ah, maka perbanyaklah kalian di hari Jum’at untuk membaca shalawat kepadaku, karena shalawat yang dibaca akan dihaturkan dan akan disampaikan kepada saya. Sahabat bertanya : “Wahai Rasul, bagaimana shalawat kami bisa sampai sementara jasadmu di alam kubur telah hancur”. Rasulullah menjawab : “Sesungguhnya Allah telah melarang kepada tanah agar tidak makan jasad para Nabi”. ( HR Imam Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’i dll).

Tentang Ramadhan, Dari Abi Ja’far bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, dia dalam kondisi sehat, dan dalam kondisi beragama Islam, di siang hari dia berpuasa, di malam harinya rutin beribadah shalat malam, dia pejamkan mata untuk melihat hal-hal yang dilarang dalam agama, dan dia menjaga kemaluan, tangan dan mulutnya, dia jaga shalat lima waktunya dengan berjamaah, kemudian dia bergegas berangkat awal untuk melaksanakan shalat Jumat, maka sempurna puasanya, sempurna pula puasanya, dia juga dipastikan mendapat malam lailatul qadr, dan dia akan mendapatkan anugerah dari Allah SWT”.

Oleh Karenanya, kita yang saat ini di bulan Ramadhan, semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan ibadah sebaik-baiknya di bulan yang penuh berkah ini. Suatu ketika dalam suatu majelis, Rasulullah SAW bertanya kepada sahabatnya : “Wahai para sahabatku, adakah di antara kalian untuk berkenan menerima lima hal dari saya, kemudian dia mengamalkannya serta dia mengajarkan kepada umat Islam yang lain agar mereka mengamalkannya”. Maka Abu Hurairah r.a. mengangkat tangan dan berkata : “Saya bersedia ya Rasul”. Kemudian Rasulullah berkata kepada Abu Hurairah :

Pertama : “Wahai Abu Hurairah, kamu jauhkan larangan-larangan Allah, kamu hindari sesuatu yang di larang dalam agama, jangan kamu dekatkan sedikitpun perbuatan yang diharamkan, maka engkau akan dicatat sebagai hamba yang ahli ibadah kepada Allah”. Kita sementara ini memahami bahwa ibadah adalah dalam bentuk shalat belaka, puasa ataupun haji belaka, namun ternyata dalam hadis ini, Rasulullah SAW mengajarkan kepada Abu Hurairah dan umat Islam semua. Andai kata pada suatu saat kita memiliki kesempatan melakukan dosa besar, namun kita bisa menahan diri dan bisa menghindar dari perbuatan dosa besar itu, maka saat itu pula Allah mencatat kita sebagai hamba yang ahli ibadah kepadaNya, balasannya adlah dosanya diampuni, dan dimasukkan ke dalam surgaNya. Sebagaiman firman Allah dalam surah An Nisa’[4] : 31 yang maknanya : jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

Kedua, terimalah pemberian Allah kepadamu, niscaya engkau akan dicatat sebagai orang yang paling kaya di sisiNya. Jika kekayaan diukur dengan harta, maka tidak ada hasrat yang mampu menghentikannya. Kalau kekayaan hanya diukur dengan seberapa banyak rumahnya, seberapa banyak kendaraannya, maka tidak akan pernah cukup hati seseorang untuk memenuhi semua keinginan nafsunya. Dalam sebuah hadis qudsy Allah SWT berfirman : Kami berikan harta kepada kalian, agar kalian mampu mendirikan shalat dan agar kalian berbagi dengan cara zakat, andai kata seseorang memiliki satu lembah yang penuh dengan emas, andai ada seorang yang mempunyai suatu pabrik yang di dalamnya semua kekayaan pasti dia akan berharap untuk memiliki yang kedua. Tidak ada yang mampu menghentikan perutnya, kecuali jika dia sudah masuk dalam tanah (telah dikubur). (HR Ahmad) Rasulullah SAW bersabda : innamal ghinaa ghinan nafs (kekayaan yang sejati itu adalah kekayaan yang ada dalam hati). (HR Imam Bukhori). Yakni sejauh mana kita bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada kita.

Ketiga, cintailah orang lain, sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, maka engkau akan dicatat sebagai seorang muslim yang sempurna. Jika engkau tidak mau disakiti, maka saudaramupun tidak akan pernah rela kalau disakiti. Jika kamu sakit hati dituduh kafir, maka orang lain juga tidak akan rela kalau dituduh seperti itu. Kamu cintai orang lain sebagaimana engkau mencintai diri sendiri.

Keempat, berbuatlah baiklah terhadap orang-orang di sekitarmu, maka engkau akan menjadi mukmin yang sempurna. Mukmin yang sempurna adalah orang yang senantiasa menebarkan kebaikan kepada orang yang ada di sekitarnya, kawan kerjanya, koleganya, kerabatnya, tetangganya dlsb. Sementara muslim yang sempurna adalah mereka yang memberi kesenangan kepada orang lain, sebagaimana dia memberi kesenangan terhadap diri sendiri.

Kelima, janganlah kamu perbanyak tertawa, karena banyak tertawa menyebabkan kematian hati. Dari Abu Hurairah r.a.dia berkata: Rasulullah SAW bersabda :“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. At-Tirmizi dan Ibnu Majah dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’) Dari Aisyah isteri Nabi SAW, bahwa dia berkata:“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sebaik-baik perkara adalah yang sederhana dan pertengahan. Tatkala Islam mensyariatkan untuk banyak tersenyum, maka Islam juga melarang untuk banyak tertawa, karena segala sesuatu yang kebanyakan dan melampaui batas akan membuat hati menjadi mati. Sebagaimana banyak makan dan banyak tidur bisa mematikan hati dan melemahkan tubuh, maka demikian pula banyak tertawa bisa mematikan hati dan melemahkan tubuh. Dan jika hati sudah mati maka hatinya tidak akan bisa terpengaruh dengan peringatan Al-Qur`an dan tidak akan mau menerima nasehat.

Karenanya tidaklah kita temui orang yang paling banyak tertawa kecuali dia adalah orang yang paling jauh dari Al-Qur`an.Adapun hukum banyak tertawa, maka lahiriah hadits Abu Hurairah di atas menunjukkan haramnya, karena hukum asal setiap larangan adalah haram. Apalagi disebutkan sebab larangan tersebut adalah karena bisa mematikan hati, dan sudah dimaklumi melakukan suatu amalan yang bisa mematikan hati adalah hal yang diharamkan.

Adapun tertawa sesekali atau ketika keadaan mengharuskan dia untuk tertawa, maka ini adalah hal yang diperbolehkan. Hanya saja, bukan termasuk tuntunan Nabi SAW jika seorang itu tertawa sampai terbahak-bahak. Karenanya tertawa terbahak-bahak adalah hal yang dibenci walaupun tidak sampai dalam hukum haram.

Orang yang sudah mati hatinya, bukan berarti dia telah tuli, pendengarannya normal, tetapi karena hatinya mati, dia tidak tidak mau mendatangi panggilan adzan itu. Orang yang sudah padam sinar hatinya, bukan berarti dia terlah buta, karena penglihatannya masih normal, karena karena hatinya mati, dia tidak mempunyai empati kepada anak yatim, tidak memiliki belas kasihan terhadap orang yang tidak mampu. Semoga 5 washiyat yang disampaikan Rasulullah SAW kepada AbuHurairah ini mampu kita amalkannya sehingga keimanan kita sempurna.

 

*) KH Ma’ruf Chozin, Aktivis Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim.

About Riadi Ngasiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *