Home / Fikrah / Isyarat Reklamasi dalam Surah al-Insyiqaq

Isyarat Reklamasi dalam Surah al-Insyiqaq

Oleh: Muhammad Al-Fayyadl*

Hingga kini, penulis belum pernah menemukan satu pun dalil tentang reklamasi pantai – kebolehan atau larangannya – dalam Al-Qur’an dan Hadits. Padahal persoalan ini menuntut tanggapan teologis yang memadai, karena di mana-mana bumi Nusantara yang dulunya permai ini sedang dihajar oleh berbagai proyek reklamasi milik pemodal raksasa dengan dampak menghancurkan bagi ekosistem dan kehidupan rakyat, utamanya kaum nelayan.

Tetapi, jika kita mengimani bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang memuat segala petunjuk ilmu pengetahuan, maka niscaya ada petunjuk ke arah itu. Dan, bila kita simak, ada satu ayat dalam Al-Qur’an yang memberi petunjuk penting tentang fenomena ini, yaitu QS. al-Insyiqaq ayat 3.

Surah ini berbicara tentang fenomena yang akan terjadi menjelang datangnya Hari Akhir dan sepanjang Hari Akhir. Lima ayat pertama berbicara tentang fenomena alam pada detik-detik Kiamat – yang terjemahannya kurang lebih demikian.
“1- Apabila langit terbelah. 2- dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh. 3- dan apabila bumi diratakan. 4- dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong. 5- dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh”.

Pada ayat ketiga, dinyatakan:
وَاِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ
“Dan apabila bumi diratakan”.
Apa tafsir ayat ini? Dalam berbagai kitab tafsir kita menjumpai keterangan bahwa ini merupakan fenomena menjelang hari Kiamat, yaitu ketika tanah-tanah di atas bumi diratakan hingga tidak ada lagi lautan, dan semuanya menjadi hamparan tanah di mana umat manusia kelak akan berdiri menghadapi hari penghitungan amalnya (“yaumul hisab”).

Imam al-Qurthubi mengutip hadits Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang ayat ini:
تُمَدُّ مَدَّ الْأَدِيْمِ
“Kelak tanah di atas bumi akan diratakan sepanjang bayangan matahari di siang hari” (sehingga manusia dapat berdiri utuh di atasnya).
Artinya, tanah-tanah akan menjadi rata, dan terus meluas hingga menjadi padang bagi tempat berkumpulnya manusia.

Namun, penulis membaca terdapat dua fase bagi proses perataan tanah ini. Fase pertama, perataan tanah yang dilakukan oleh tangan manusia, yang membawa kehancuran alias “pra-kiamat” bagi kehidupan. Fase kedua, perataan tanah yang dilakukan secara total oleh Allah sehingga mengakibatkan hilangnya lautan secara menyeluruh.

Di dalam fase pertama itulah terjadi proyek-proyek reklamasi pantai.
Menarik, kalau kita membaca keterangan mufasir modern Syaikh ‘Ali al-Shabuni, mengomentari ayat ini:
أي وإذا الأرض زادت سعة بإزالة جبالها وأكامها وصارت مستوية لا بناء فيها ولا وهاد ولا جبال
“Artinya: apabila tanah di atas bumi bertambah keluasannya seiring dengan lenyapnya gunung-gunung dan dataran-dataran tingginya, dan tanah-tanah menjadi datar, tanpa bangunan di atasnya, tanpa dataran rendah maupun gunung-gunung” (Shafwat al-Tafasir III: 537).

Keterangan ini persis menjelaskan proses reklamasi: meluasnya volume tanah di atas lautan atau bibir pantai, akibat pengerukan pasir dan tanah dari gunung-gunung, yang berakibat pada kehancuran gunung-gunung dan dataran-dataran tinggi. Tak terhitung berapa gunung yang menjadi sasaran proyek reklamasi. Setelah menghancurkan gunung, mereka membangun di atas pantai.

Reklamasi mempercepat datangnya kiamat. Dan pra-kiamat itu kini sedang terjadi di Indonesia, atas restu pemerintah yang kita pilih sendiri.

*Alumnus program Filsafat Kontemporer dan Kritik Kebudayaan di Université de Paris VIII (Vincennes-Saint-Denis), Prancis.

About saiful

Check Also

manado

Pra Munas Konbes Berlangsung di Manado

Manado — Paham kebangsaan merupakan keterkaitan hubungan antara paham agama dan kebangsaan di sebuah negara. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *